Habib Idrus Bin Salim Al-Djuffri

Wednesday, 21 November 2007

Tonggak Islam di Indonesia Timur

Setiap tahun setelah hari raya Iedul Fitri, persisnya 12 Syawwal, ribuan umat Islam dari berbagai daerah di kawasan Indonesia timur berduyun-duyun datang ke Palu, Sulawesi Tengah. Tujuannya, menghadiri acara haul (peringatan wafatnya, red) tokoh dan tonggak Islam di kawasan Indonesia Timur, Guru Tua Al-Alimul ‘Allamah HS Idrus bi Salim Al Djufri. Di sanalah, penebar Islam asal Hadramaut yang menghabiskan separuh usianya di Indonesia itu, dimakamkan.

Masyarakat Muslim Indonesia timur memang sangat sulit melupakan perjuangan gigih dari seorang Tuan Guru HS Idrus bin Salim Al Djufri. Semangatnya untuk menebarkan Islam ke pelosok-pelosok daerah terpencil, sangat dirasakan. Tak hanya pelosok yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dan kendaraan. Almarhum sering menembus daerah terpencil dengan menggunakan sampan untuk memberikan pencerahan akidah Islam dan bimbingan kepada umat Islam yang membutuhkan.

Habib Idrus muda memang gigih menimba ilmu agama. Pada usia 18 tahun ia telah hafal Alquran ditambah tempaan langsung ayahnya, Habib Salim Aljufri.
Read the rest of this entry »


Guru Tua, Sang Fundraiser

Wednesday, 21 November 2007

Ramadhan berlalu, datanglah Syawal. Sebulan berpuasa, sebulan beribadah, bagi lembaga keumatan, juga menjadi momen menggalang dana zakat-infak-sedekah dan wakaf. Dalam urusan ini, di Indonesia Timur pernah eksis sosok fundraiser andal, Sayid Idrus bin Salim (SIS) al-Djufrie. Ia menunjukkan ikhtiar pemberdayaan dan hasilnya juga konkret dalam kurun 46 tahun perjuangannya, sampai Tuhan memanggilnya. Buat publik Indonesia – yang kerap “dijejali” success story LSM asing, atau social hero wilayah Barat, Al-Djufrie bisa menjadi bahan inspirasi di tengah kompetisi penggalangan dana umat yang kian mirip satu sama lain ini oleh sejumlah lembaga yang berpusat di Jakarta.

Nukilan kisah ini, berawal dari peringatan milad Al-Khairaat ke 64. Saat itu, 14 Muharam 1414 Hijriah (1993), Ketua Utama Al-Khairaat, HS Saggaf al-Jufrie berpesan, Al-Khairaat memang tua, tapi bukan tua renta karena sesungguhnya Guru Tua (sebutan akrab tokoh ini) – SIS al Djufrie – bukan menciptakan kitab-kitab yang mati, melainkan kitab-kitab yang hidup, yang setiap zaman orang tak pernah keliru membacanya.

Pendapatnya, meneruskan pernyataan Guru Tua sendiri, ketika ditanya, mengapa tak mewariskan kitab? Beliau hanya menjawab: ‘Hadzihii kutubi, ini kitab-kitabku’ seraya menunjukkan hamparan bangunan perguruan Al-Khairaat. Tak terbantah, kiprah Guru Tua yang berpulang pada 12 Syawal 1389 (22 Desember 1969), berlanjut sampai hari ini di tangan abna’l khairaat, dengan 1000 lebih cabang yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia.
Read the rest of this entry »