Ramadhan berlalu, datanglah Syawal. Sebulan berpuasa, sebulan beribadah, bagi lembaga keumatan, juga menjadi momen menggalang dana zakat-infak-sedekah dan wakaf. Dalam urusan ini, di Indonesia Timur pernah eksis sosok fundraiser andal, Sayid Idrus bin Salim (SIS) al-Djufrie. Ia menunjukkan ikhtiar pemberdayaan dan hasilnya juga konkret dalam kurun 46 tahun perjuangannya, sampai Tuhan memanggilnya. Buat publik Indonesia – yang kerap “dijejali” success story LSM asing, atau social hero wilayah Barat, Al-Djufrie bisa menjadi bahan inspirasi di tengah kompetisi penggalangan dana umat yang kian mirip satu sama lain ini oleh sejumlah lembaga yang berpusat di Jakarta.
Nukilan kisah ini, berawal dari peringatan milad Al-Khairaat ke 64. Saat itu, 14 Muharam 1414 Hijriah (1993), Ketua Utama Al-Khairaat, HS Saggaf al-Jufrie berpesan, Al-Khairaat memang tua, tapi bukan tua renta karena sesungguhnya Guru Tua (sebutan akrab tokoh ini) – SIS al Djufrie – bukan menciptakan kitab-kitab yang mati, melainkan kitab-kitab yang hidup, yang setiap zaman orang tak pernah keliru membacanya.
Pendapatnya, meneruskan pernyataan Guru Tua sendiri, ketika ditanya, mengapa tak mewariskan kitab? Beliau hanya menjawab: ‘Hadzihii kutubi, ini kitab-kitabku’ seraya menunjukkan hamparan bangunan perguruan Al-Khairaat. Tak terbantah, kiprah Guru Tua yang berpulang pada 12 Syawal 1389 (22 Desember 1969), berlanjut sampai hari ini di tangan abna’l khairaat, dengan 1000 lebih cabang yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia.
Buah perjuangan seorang Guru Tua, bisa dipandang sebagai gerakan pemberdayaan riil yang menyuntikkan semangat perubahan. Yang luar biasa, sepanjang 1930-1969, tokoh kelahiran Taris (Hadramaut, Arab Selatan), 15 Sya’ban 1309 (16 Maret 1889) ini berjuang dalam tiga zaman: imperialisme (lama) Belanda, Jepang, dan awal kemerdekaan ketika Indonesia baru mengkonsolidasikan diri sebagai bangsa. Pada ketiga masa sulit itu, semangat nonpemerintahnya tak diragukan lagi. Bahkan ketika Indonesia Merdeka, sampai akhir hayatnya, ke-NGO-an Guru Tua amat menonjol.
Guru Tua (disebut begitu, karena saat ke Palu, sudah tidak muda lagi) tidak mengajarkan sikap mendamba bantuan pemerintah, sebaliknya Al-Khairaat banyak menolong merekatkan bangsa dan memberdayakan kaum papa negeri ini. Ia mencetak kader pendidik dan penerusnya lewat Al-Khairaat, menghasilkan teknolog, agribisnismen dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Kalau di masa sulit saja, seorang Guru Tua bisa meyakinkan orang mewakafkan tanah, harta, waktu dan tenaganya untuk memberdayakan diri dan lingkungannya, tentu, di zaman “merdeka sepenuhnya” seperti sekarang, mungkin dengan “sepercik” semangat otonomi daerah, lebih banyak lagi yang bisa dihasilkan.
Provokator Kebaikan
Sepanjang catatan yang sempat saya baca, Guru Tua ternyata provokator andal. Simak saja salah satu statemennya, begitu “provokatif”. Misalnya saja, untuk mendorong orang Sulawesi Tengah khususnya Palu tempat Al-Khairat berkantor pusat peduli pendidikan (tentu lewat Al-Khairaat), ia sampaikan dengan kalimat begini: “Di daerah Sulawesi Tengah dan Palu, Kabupaten Donggala, ini supaya betul-betul memperhatikan madrasah, sekolah, karena dengannya manusia, lebih-lebih kita umat Islam baru bisa maju. Al-Khairaat ini mengharumkan nama Palu, sebab di mana-mana ada cabang madrasahnya. Mau tidak mau nama Palu pasti disebut. Insya Allah. Palu ini akan menjadi Ka’bah buat ilmu, atau tempatnya Haji Ilmu…..Insyaflah, sadarlah, bahwa barangsiapa (ingin) bahagia di dunia perlu pengetahuan-pengetahuan, barangsiapa (ingin) bahagia di akhirat perlu pula dengan ilmu-pengetahuan. Ingatlah, dengan dasar pengetahuan, orang bisa di udara, di laut, dan sebagainya. Perhatikanlah, madrasah-madrasah atau sekolah-sekolah.”
Ungkapan itu disampaikan pada Muktamar Pertama Al-Khairaat di Palu, 21 Agustus 1956 bertepatan peringatan 25 tahun Al-Khairaat. Acaranya sendiri berlangsung sampai 25 Agustus 1956. Diksi, gaya bicaranya teduh simpatik. Dengan jargon Islam, ia bisa membangunkan keterlenaan orang, yang untuk ukuran masa itu terdengar cerdas memikat. Kearifannya memilih cara menyampakan pesan, pantas menjadi studi menarik bidang komunikasi.
Belajar dari pengalaman hidup di bawah tekanan Inggris yang membuatnya dibuang ke Asia Tenggara dan akhirnya mengabdi di Palu dan Indonesia Timur, langgam ke-NGO-an Guru Tua terartikulasi pada gerakan kebudayaan, gerakan keteladanan. Jangan harap memprovokasi kebaikan bagi orang lain, kalau cuma bisa bicara. Guru Tua, bergerak, beraktivitas bukan sekadar melakukan short course.
Ia menggembleng sederet panjang ulama berbagai bidang keahlian. Misalnya saja, murid-murid pertamanya Rustam Arsjad (kemudian menjadi pemimpin pesantren) adalah ahli fikih dan tata bahasa Arab, Mahfudz Godal menguasai tajwid dan tarikh, Abdillah al-Djufrie mendalami adab (sastra Arab).
Terjun Langsung
Lelaki santun berkacamata itu melintas dengan jubah hitamnya. Langkahnya menuju madrasah Al-Khairaat, melintas toko Royal (kemudian menjadi toko Rajawali) untuk mengutip derma untuk menopang kelanjutan pembangunan gedung madrasah Al-Khairaat yang baru. Tak lama, ia masuk toko buku Mubarak Himran. Seorang pemuda terlihat buru-buru menyambut pria berjubah hitam itu, setelah dekat, ia mencium tangan setelah beruluk salam, lalu sama-sama duduk. Pria berjubah itu berbincang ringan dalam bahasa Arab dengan pemuda yang baru menyalaminya. Perbincangan itu seputar geografi Eropa. Salah satu yang dipaparkannya tentang negeri Denmark.
Usai bercerita, pria berjubah itu bangkit, mau kembali ke madrasah Al-Khairaat. Si pemuda mengekor. “Kau terlalu muda, jangan dulu kawin,” ujar lelaki berjubah itu. Yang diingatkan tersipu-sipu malu. Ketika itu, si pemuda berusia 19 tahun. Mereka berdua pun tibalah di depan gedung madrasah Al-Khairaat yang baru. Wajah pria berjubah hitam itu sontak berseri-seri. “Hadzaa madrasatun.” Inilah sekolah kita. Ia pandangi gedung berlantai dua yang terlihat megah itu.
Bangunan megah itu ternyata selesai dalam tempo singkat. Pria berjubah hitam itu, pendiri Al-Khairaat sendiri, al Mukarramah al-limul Allamah Sayid Idrus bin Salim al-Jufri atau Guru Tua. Tahun 1953 ia ikut mencari dana pembangunan madrasah. Mengharukan, bahwa bangunan yang cukup megah zaman itu tidak sepeser pun memakai dana Banpres, APBD, dan sejenisnya.
Al-Khairaat besar dari dana wakaf, infak, dan zakat, dana-dana pembersih harta Muslimin. Ikhlas, menjadi kata kunci suksesnya ikhtiar bukan sekadar aspek teknik fundrising, tetapi juga kaderisasinya. Dari sumber yang bersih, lahir pemikir bersih dengan ketulusan perjuangannya.
Bahasa Damai dan Pengakuan Pemerintah
Kalau kebanyakan NGO sempat diametral dengan pemerintah, munculnya sebutan “NGO plat merah” (pro-pemerintah) merefleksikan kurang harmonisnya NGO-Pemerintah. Guru Tua malah menunjukkan harmonisnya pemerintah dengan NGO, yang itu mencuat justru karena tingginya adab, sopan-santun pergerakan Al-Khairaat. Simpati dibangun dengan kesungguhan berkarya, bukan sekadar kritik pedas yang melupakan sopan-santun.
Karena simpati itulah, pemerintah mengakui jasa NGO meski pun bukan “pengakuan” yang dicari dalam aktivitas sebuah NGO, tetapi lebih pada keberpihakan konkret pada yang terpinggirkan, memberdayakan yang lemah. Pengakuan itu antara lain disampaikan Kepala Kantor Pendidikan Agama Kabupaten Donggala, Zainal Abidin Betalembah.
Bahasa damai, kental di setiap gerakan Guru Tua. Pernah suatu ketika Guru Tua pulang dari tabligh di Kulawi, Palu. Beliau kebetulan menumpang sebuah mobil. Di perjalanan dilihatnya seseorang, dari busana khasnya, dipastikan, dia adalah seorang pendeta. Guru Tua minta mobil berhenti, menyilakan pak pendeta masuk mobil dan mereka bersama melanjutkan perjalanan.
Bahasa damai ini, bisa sejalan dengan bahasa persatuan. Simak saja apa yang dinukil dari pidato Guru Tua saat membuka kembali perguruan Al-Khairaat setelah tutup beberapa lama gara-gara penjajahan Jepang. Pada 17 Desember 1945 itu, setelah Jepang menyerah, di depan abna’l khairaat, Guru Tua bersyair: Rayatal izzi rafrifi fi zamani ardluha,wajibaluha khadran; Kullu ummatin laha ramzu’izzin; Wa ramzu izzina al-harau wal baidhau Wahai bendera kebangsaan, berkibarlah di angkasa, di atas bumi di gunung nan hijau; Tiap bangsa punya lambang kemuliaan; Dan lambang kemulyaan kita adalah Merah Putih (KH Zainal Abidin Betalembah, 1970, dikutip Nurhayati 1986:106-107).
Kalau kita dengar saat ini, ketika media massa dan elektronik sudah menyita perhatian khalayak, kalimat itu enteng-enteng saja. Bayangkan, setting sosial pada masa itu, yang mengandalkan komunikasi oral, sedikit media cetak dan radio, tanpa televisi. Maka tablig, pertemuan massa adalah forum paling efektif membangun persepsi. Ketika Guru Tua yang bicara, sosok yang membuat setiap orang dekat dengannya, kalimat-kalimat itu menjadi amat bermakna. Getarannya, menyusup di relung hati yang mendengarnya. Tak pelak, Guru Tua, muhajirin asal Hadramaut ini, bisa lebih nasionalis, ketimbang mereka yang lahir, makan, dan besar di Indonesia (karena sebagian diantaranya, menjadi koruptor besar nan tak kunjung sadar). Semoga nurani kita cukup lapang menerima keteladanan ini, dan pasca Ramadhan – bersama dengan menyambut Idul Fitri, kita semua benar-benar bertekad menjadi manusia bersih kalbu, pikir, dan laku.
Dikutip dari: Republika Online
Penulis: Iqbal Setyarso
Alumnus UNTAD Palu, Fundraiser Komite Kemanusiaan Teluk Buyat, Jakarta
